Mbah Peyang adalah seorang tua yang sangat disegani di kampungnya. Ia terkenal baik hati dan suka menolong orang. Sekarang mbah Peyang sedang sakit asma kronis. Dan dokter sudah menyatakan bahwa mbah Peyang sudah kritis.
Mendengar kata dokter, anak cucunya kemudian berkumpul dan memanggil pak Ustadz untuk memimpin doa bagi mbah Peyang.
Pak Ustadz segera mengambil posisi di sebelah ranjang dekat kepala mbah Peyang dan mulai memimpin doa. Di tengah-tengah kekhusyukan membaca doa, tiba-tiba terlihat nafas mbah Peyang mulai tersengal-sengal... dia seolah ingin mengatakan sesuatu tetapi tidak bisa keluar dari mulutnya. Dia memberi isyarat kepada anaknya untuk meminta alat tulis.
Anaknya segera memberi apa yang diminta dan berpikir bahwa mbah Peyang akan menuliskan sebuah wasiat bagi mereka.
Setelah selesai menulis, mbah Peyang menyerahkan suratnya itu kepada pak Ustadz, yang langsung memasukkan surat tersebut ke dalam saku bajunya. Pikirnya, tidak etis membaca surat wasiat di depan orang yang sudah sekarat. Tak lama kemudian mbah Peyang pun menghembuskan nafas terakhir, diiringi isak tangis anak cucu yang begitu menyayanginya.
Tujuh hari setelah kematian mbah Peyang, diadakan tahlilan untuk mendoakan mbah Peyang, dan pak Ustadz diundang lagi untuk memimpin doa di rumah mbah Peyang. Selesai berdoa, mereka beramah tamah, dan tiba-tiba pak Ustadz teringat bahwa baju yg dipakainya adalah baju yang dipakai pada saat mbah Peyang meninggal dunia di rumah sakit. Dia juga teringat bahwa mbah Peyang memberikan surat wasiat yang belum sempat dibacakannya.
Tiba-tiba pak Ustadz memotong acara makan bersama sambil berkata: "Saudara-saudara, kita tahu bahwa mbah Peyang telah meninggalkan kita. Pada saat beliau meninggal, ada satu surat wasiat yang diberikan kepada saya, yang sampai sekarang belum saya bacakan isinya. Oleh karenanya, saat ini adalah tepat untuk membuka dan membaca surat wasiat dari mbah Peyang." Pak Ustadz mengambil surat wasiat itu dari kantongnya seraya berkata: "Saya akan bacakan surat wasiat mbah Peyang yang berbunyi:..." tiba-tiba pak ustadz pingsan. Jadi hebohlah acara itu. Beberapa orang yang penasaran kenapa pak Ustadz pingsan setelah membuka surat wasiat mbah Peyang, mengambil surat wasiat itu, dan ternyata di surat wasiat itu tertulis:
"PAK USTADZ, TOLONG ANDA GESER SEDIKIT. SAYA NGGAK BISA BERNAFAS, KARENA ANDA MENGINJAK SELANG OKSIGEN SAYA."
Rabu, 06 Mei 2009
Surat Wasiat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
0 comment:
Posting Komentar